Berpikir Besar ala Arifin Panigoro



Mungkin Anda sudah mendengar nama Arifin Panigoro sebagai politikus dan pebisnis sukses. Konon termasuk orang terkaya di Indonesia. Kali ini, saya tidak akan membicarakan aktivitas politiknya, namun bagaimana pak Arifin Panigoro sukses dalam bisnis. Satu rahasia yang bisa saya ambil dari perjalanan bisnisnya ialah “berpikir besar”.

Saat menjalani bisnis pemasangan pipa, perusahaannya selalu mendapatkan proyek yang kecil-kecil dengan alasan pengusaha lokal belum memiliki peralatan yang memadai. Namun pak Arifin Panigoro tidak menyerah dan tidak berhenti sampai disana. Sementara, sebagian besar orang akan mengatakan sudah takdir orang lokal untuk mendapatkan proyek kecil, namun dia tidak.

Pak Arifin selalu berpikir besar. Orang lokal pun harus diberi kesempatan untuk mendapatkan proyek-proyek besar. Kenapa tidak? Berawal dari berpikir besar inilah pa Arifin Panigoro mulai mengambil tindakan untuk mewujudkan visinya. Pak Arifin Panigoro memiliki keyakinan bahwa orang lokal pun mampu mengerjakan proyek besar.

Berpikir besar pun terlihat saat pak Arifin Panigoro berani menawar peralatan seharga US$ 4 juta, padahal “hanya” punya uang sebesar US$ 300.000. Namun dengan keyakinannya, peralatan itu pun berhasil didapatkan. Keberhasilan mendapatkan peralatan ini, tentu saja didukung oleh kemampuan bersilaturhmi dan bernegosiasinya.

Orang yang berpikir besar akan berani mengambil resiko. Pak Arifin Panigoro dengan berani membeli beberapa ladang minyak dengan harga jutaan dolar. Padahal belum tentu akan menghasilkan minyak yang sepadan. Setelah, minyak mengalir setiap hari seiring uang yang masuk ke kantongnya. Tidak cukup menjadi “raja minyak” saja. Pak Arifin Panigoro pun menengok bidang pertambangan dan juga meraih sukses.

Inilah kekuatan berpikir besar. Coba bayangkan, jika pak Arifin Panigoro berpikir bahwa takdir orang lokal hanya proyek kecil, mungkin sekarang pak Arifin Panigoro tidak ada di daftar orang terkaya di Indonesia. Berpikir besar ini membuatnya menjadi orang yang tekun, bekerja keras, dan berani mengambil resiko.

Sudahkah kita berpikir besar? Jika Anda saat ini sudah memiliki bisnis atau mendukuki karir tertentu. Cobalah untuk berpikir besar. Pikirkan setidaknya Anda bisa dua kali lebih sukses dibandingkan saat ini. Ini yang saya lakukan, saya selalu berpikir untuk menggandakan penghasilan saya setiap saat. Saya yakin Allah akan menolong, saya percaya diri, dan salah seorang yang menginspirasi saya adalah pak Arifin Panigoro.


Print halaman ini

| | Read More »

Seorang Tukang Becak Yang Luar Biasa

Mungkin ini adalah cerita lama. tapi saya tertarik ingin mengulasnya lagi mengingat sudah berkurangnya rasa solidaritas pada bangsa ini.Kalau orang kaya mau menyumbangkan hartanya tentu itu bukan suatu keajaiban. Tapi kalau orang miskin mau menyumbangkan hartanya berbagi dangan yang lain itu sangat mengetuk hati kita. Berikut ini kisang seorang Bai fang Li, seorang tukang becak miskin yang menyumbang seluruh hartanya untuk anak-anak miskin.

BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.



Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.


Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.


Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..


Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 ( setara 470 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.






sumber

Print halaman ini

| | Read More »

Keliru Itu Indah


Dalam dunia olah raga kita, sepak bola adalah salah satu cabang olah raga yang jarang prestasinya membanggakan. Tentu saja, ada banyak sebab yang bersembunyi di balik fenomena ini. Namun, sulit mengingkari sebuah kenyataan, bahwa sepak bola adalah sejenis permainan yang amat bertumpu pada kecermatan mengelola perbedaan.

Sayangnya, tidak ada cabang olah raga baris berbaris yang diperlombakan. Coba kalau ada, saya yakin - lebih-lebih jika yang mewakili adalah sahabat kita dari ABRI - kita tidaklah mengecewakan.
Beda fundamental antara kedua jenis olah tubuh ini, sepak bola memerlukan perbedaan sebagai sarat utama, sedangkan dalam baris berbaris perbedaan ditekan sekecil-kecilnya. Keliru dalam baris berbaris, maka celakalah akibatnya.

Manajemen publik kita, kalau mau jujur, lebih dekat ke manajemen baris berbaris dibandingkan sepak bola. Bila ada pakar ekonomi politik mengkritik tentang aspek KKN dalam kontrak karya Free Port, disebut menghina pemerintah. Jika ada demonstrasi, disebutlah mereka antek komunis. Setiap inci perbedaan, bukannya dirangkai dan dikelola, malah ditempatkan sebagai kekeliruan yang mengganggu ketenteraman penguasa.

Padahal, ada banyak bukti yang menunjukkan, bahwa kemajuan peradaban manusia dibangun di atas jutaan tumpukan kekeliruan.
Sebut saja Columbus yang menemukan benua Amerika. Manusia pertama yang berani bermimpi bahwa kita bisa terbang. Penemu teknologi internet yang becita-cita tentang desa global yang disatukan komputer.
Kumpulan manusia yang membuat peradaban penuh dengan lompatan ini, secara jujur harus diakui, adalah kumpulan manusia keliru.

Secara lebih khusus, jika dilihat dari kaca mata zaman mereka hidup.
Columbus dianggap keliru dengan berlayar terus ke barat. Sebab, pada saatnya akan tercebur ke dalam jurang yang menjadi ujung barat bumi, yang diyakini saat itu berbentuk datar.
Saat opini publik berkeyakinan, bahwa jarak satu negara dengan negara lain demikian jauh, perbedaan bahasa demikian banyak, siapa yang mengira bahwa komunitas manusia di bumi ini, bisa menjadi sebuah desa global melalui internet.

Dengan penuh ketulusan harus diakui, peradaban kita berhutang ke banyak manusia keliru. Sebab, lompatan-lompatan sejarah, lahir dari manusia yang disebut keliru oleh zamannya.

Dari keyakinan bumi datar di ajak melompat menjadi bundar. Dari telepon dengan kabel menjadi tanpa kabel. Dari komputer ke PC menuju note book dan bahkan ada yang menemukan hard disk sebesar koin tetapi dengan kapasitas besar.
Bercermin dari sini, menurut saya kemajuan peradaban berjalan dalam lingkaran kekeliruan. Bayangkan, apa yang terjadi bila manusia tidak bisa terbang dianggap sebagai kebenaran absolut tanpa kekeliruan sedikitpun ?.
Lebih dari sekadar kemajuan, hidup menjadi lebih dinamis dan bergairah bila ada yang berani mengatakan keliru terhadap sejumlah kemapanan berfikir. Susah digambarkan, bagaimana wajah kehidupan, jika kebenaran hanya satu dan dipercayai terus menerus.
Sekolah kerjaannya hanya menghafal kebenaran yang sama. Guru tidak diperlukan dan diganti mesin foto copy. Penelitian tidak ada gunanya. Dialog no way.

Dengan demikian, keberanian sejumlah 'oknum' untuk menyatakan keliru terhadap sejumlah opini publik, sebenarnya motor peradaban. Sekaligus, menghindarkan manusia untuk tidak menjadi dinosaurus yang punah karena tidak berubah.

Lihat saja pengusaha-pengusaha yang menggantungkan nasibnya ke keluarga Cendana. Dari dulu hingga cantelannya lengser, perilakunya tidak berubah. Sebut saja penguasa-penguasa tidak tahu diri yang dipaksa mundur. Semuanya mengindikasikan diri tidak berubah. Dan pada saat yang sama, menempatkan manusia yang berani menyebut mereka keliru pada posisi semenderita mungkin.

Bertolak dari sini, penguasa dan pengusaha mana saja yang hanya sibuk membenarkan diri sendiri, dan memusuhi siapa saja yang berani menyebut mereka keliru, cepat atau lambat akan menelan batu yang mereka buat sendiri.

Mungkin ada baiknya bercermin dari apa yang pernah ditulis Karl Popper di tahun 1958. Dalam The logic of scientific discovery, Popper menulis :

'science progresses most rapidly when we attempt to refute our theories and hypotheses rather than seek to confirm them'.

Meminjam argumen Popper,

Ilmu pengetahuan - demikian juga usaha dan perekonomian - akan berkembang sangat cepat kalau kita berani membuktikan bahwa pendapat kita keliru.

Dan harus diakui, tulisan ini juga berisi banyak kekeliruan. Wong kekeliruan koq disebut indah dan sumber kemajuan. Anda juga keliru dengan membaca halaman ini. Sudah tahu judulnya keliru dibaca juga.
Akan tetapi, dalam kekeliruan itulah terletak banyak sekali keindahan yang menjadi awal kemajuan.

Gede Prama



Print halaman ini

| | Read More »

22 Wisdom and Success: Sebuah Cerita, Berjuta Makna

22 Wisdom and Success: Sebuah Cerita, Berjuta Makna


S ebutir pasir ternyata bisa menaklukkan seorang pendaki tangguh. Bagaimana bisa? Sebutir pasir masuk ke kuku dan membuat infeksi hingga nyaris diamputasi dan mengangkiri kariernya sebagai pendaki profesional. Pesan agar tidak meremehkan hal-hal kecil ini mengemuka dari salah satu kisah berjudul Sebutir Pasir di buku "22 Wisdom and Success" yang kembali ditulis oleh Sang Pembelajar Andrie Wongso.
Sederhana namun penuh makna. Itulah ciri khas kisah-kisah yang dituliskan dalam buku yang melanjutkan sukses seri Wisdom and Success sebelumnya, yakni 15, 16, 18, 20 Wisdom and Success.

Bapak Andrie Wongso yang dinobatkan oleh media sebagai Motivator No. 1 Indonesia memang memiliki kelebihan sebagai motivator yang memotivasi berdasar hal nyata, dekat dengan keseharian, namun penuh pembelajaran. Tak heran, sebab ia sendiri memang mengalami banyak pembelajaran dari hidupnya.

Di sinilah kekuatan dari buku berisikan 22 kisah ini. Sebab, semua kisah yang pernah direkam untuk disiarkan secara rutin di jaringan Radio Sonora setiap Senin, pukul 07.00-08.00 WIB menjadi penuh pesan moral yang menyentuh dan menggugah, tanpa kesan menggurui.

Coba simak juga kisah yang membuat kita tersadar bahwa setiap makhluk pasti punya potensi di cerita berjudul Saya Dilahirkan di Dunia Ini Pasti Punya Manfaat. Dikisahkan, seekor kura-kura merasa tidak aman karena tak bisa lari cepat saat ada bahaya. Namun ternyata, ia terselamatkan cangkang sangat kuat sehingga sang raja hutan tak bisa memangsanya. Saat membaca kisah ini, seolah kita diingatkan, untuk mau selalu bersyukur dan dapat memaksimalkan potensi yang kita miliki.

Begitulah, membaca buku ini seolah kita sedang "belajar" tentang kehidupan. Bukan hanya itu. Sang Motivator sepertinya juga selalu ingin memberikan yang lebih bagi pembaca. Untuk itu, di buku ini, kembali disertakan bonus CD audio berisi cuplikan kisah yang dituturkan langsung oleh sang penulis sehingga "aura" motivasi di buku ini semakin dapat menginspirasi siapa saja pembacanya.

Tentu, agar buku ini makin bermakna, kita semua dituntut bukan sekadar menjadi penikmat beragam kisah tadi. Namun, lebih penting lagi adalah bagaimana memetik hikmah, menyarikan dalam kehidupan, dan kemudian mempraktikkan menjadi tindakan nyata. Saat itulah, pintu-pintu sukses dan bahagia selalu terbuka bagi kita semua.


Judul Buku: 22 Wisdom&Success
Penulis: Andrie Wongso
Penerbit: AW Publishing
Isi: xiii + 184 halaman
Perdana: November 2010



Print halaman ini

| | Read More »

Bekerja Itu Menyakitkan

B ekerja itu menyakitkan. Pertama karena kebosanan, kedua karena ia tak berkesudahan. Dua puluhan terakhir ini pekerjaan saya hanya dua saja: mengetik dan ceramah. Dua soal yang saya sukai , yang keduanya malah pernah saya cita-citakan, ketika hari ini benar-benar dikabulkan, mestinya membuat saya meledak oleh kegembiraan. Tapi nyatanya tidak, tepatnya, tidak selalu. Ada kalanya, komputer itu malah saya bayangkan sebagai perampok waktu-waktu terbaik saya. Saya jadi kehilangan kesempatan bersama anak-anak, tepat ketika mereka membutuhkan. Ada kalanya panggung-panggung  ceramah itu seperti pengadilan tempat saya harus berkelit agar terbebas dari segala macam tuduhan.
sma yas

Dari mana asalnya perasaan benci bahkan kepada pekerjaan yang kita sukai sekalipun ini? Dari rutinitas. Ketika segalanya telah menjadi rutin, yang tersisa hanyalah kebosanan kita kepada soal-soal yang selalu sama itu. Wajah-wajah yang sama, target-target yang sama dan suasana yang sama. Itulah kenapa harus  lahir keluhan ‘’I hate Monday,’’ itu. Karena setiap Senin, wajah yang sama itu kembali menampakkan diri.

Tetapi kehadiran Senin yang kita benci itu ternyata adalah jalan untuk menuju Jumat. Dan kepada jumat, kita terbiasa memekik: ‘’Thanks God, Its Friday!’’. Lalu mungkinkan kita memekik gembira kepada Jumat tanpa melewati kebencian kita kepada Senin. Mustahil. Jadi setiap jalan cinta itu sesungguhnya harus melewati jalan benci. Maka inilah saatnya mencintai benci karena hanya dengan melewatinya, kita akan ketemu cinta.

Bekerja memang menyakitkan, apalagi di tengah rasa bosan dan ujung yang tak pernah berkesudahan. Tulisan ini rampung, tulisan di depan sudah menanti. Belum usai dari lelah ceramah ini, esok harus ceramah itu lagi. Pekerjaan lalu menyrupai gelombang yang selalu bergulung-gulung  tanpa ujung. Dan inilah watak gelombang, semakin dilawan, gelombang itu akan  semakin mengancam. Jika arusnya kita tentang, seluruhnya dari kita cuma akan ditelan. Watak inilah yang amat dipahami oleh para peselancar. Dan ketika watak itu  sudah didamaikan, inilah  anehnya, peselancar yang kuat, malah membutuhkan gelombang yang lebih besar dan penuh gempuran. Kegembiraan mereka tergantung pada besarnya gempuran.

Jadi setiap pekerjaan itu menggempur kita, kepadanya kita diperintahkan untuk berselancar  menikmati sensasinya. Barulah terasa bahwa soal yang sebenar-benarnya rutin itu tidak ada. Setiap gelombang yang sama, selalu memuat unsur-unsur yang berbeda. Setiap air yang mengalir di sungai yang sama, selalu saja adalah air yang berbeda. Jalan yang kita lewati dari rumah ke kantor, mungkin tampak itu-itu saja. Tetapi ia adalah jalan  dengan kemungkinan yang berbeda. Kemarin tak ada mobil yang gembos di situ, sekarang ada. Dan si gembos itu adalah teman yang kita harus menolongnya. Karena si gembos terkesan  lalu kepada Anda datang tawaran yang mengubah hidup Anda selamanya.

Di kantor, kita selalu saja ketemu dengan orang-orang yang sama, tetapi sesungguhnya, ia adalah orang telah menjadi berbeda dibanding kemarin. Setidaknya usianya telah bertambah sehari. Jangan remehkan pertambahan usia ini. Jangan-jangan ia telah menjadi manusia yang lebih matang. Dari seorang yang kemarin menjengkelkan, hari ini,  ia bisa jadi telah bersiap menjadi teman terbaik Anda. Rasa sakit di balik rutinitas itu, ternyata cuma jalan menuju sehat. Maka sakitlah dengan gembira.

Disadur dari: http://www.priegs.com/

Print halaman ini

| | Read More »

Menguras Bak Mandi

Menguras bak mandi bukan soal asing bagi saya bahkan hingga di hari ini. Alasan utamanya bukan karena saya menyukai pekerjaan ini, melainkan karena tidak ada pembantu di rumah kami.

Tetapi ketika saya mulai asyik dengan pekerjaan sendiri, banyak sekali pekerjaan rumah tangga diambil alih istri. Begitu banyak rupanya item pekerjaan itu yang celakanya tak semuanya mudah diidentifikasi. Jenisnya tak pernah jelas tetapi kelelahannya demikian tegas.

Itulah kenapa istri  bisa amat terpukul jika pekerjaannya tidak diapresiasi. Tidak dianggap mengerjakan apa-apa cuma karena hasilnya tidak kelihatan dan suasana rumah tampak miskin perubahan.

Tak banyak berubah. Padahal baru saya sadari, apa yang dikerjakan istri itu memang soal-soal yang begitu banyak daftarnya tetapi hampir seluruhnya adalah jenis pekerjaan sunyi. Itulah jenis pekerjaan yang memang tidak berujung  karena selalu  sambung menyambung.

Saya sendiri tak sekali mengerjakan tugas seperti ini. Hasilnya saya bisa kerenggosan kelelahan dan berhenti di tengah jalan karena jumlah pekerjaan baru itu bisa bermunculan sebanyak pohon di hutan. Rampung ini muncul itu. Semula saya hanya ingin merapikan tumpukan buku. Tetapi belum rampung buku itu rapi, ternyata di sana juga ada  mainan anak, ada  kertas makalah, ada ini, ada itu, ada anu, yang semuanya butuh dikembalikan, dirapikan dan ditata ulang.

Setelah satu sudut rapi, sudut yang lain jadi terlihat brengsek. Tiba-tiba saya melihat terlalu banyak pakaian kotor, pakaian  setengah kotor yang keduanya harus disendirikan tetapi tak cukup ruang.

Persoalan yang satu menimbulkan persoalan berikutnya karena baru terasa betapa banyak tindakan indispliner di sana-sini. Ada yang gemar menaruh ganti sembarangan, ada kaos kaki yang kemarin begitu sulit dicari ternyata cuma menggeletak di sini. Ada handuk yang digantung begitu saja padahal bukan di situ tempat semestinya.

Rampung menata yang satu mata ini sudah melotot lagi pada aneka VCD yang banyak beserak dan sudah sekian lama tak dikelompokkan menurut aturan. Begitu banyak pelanggaran  terjadi yang membuat saya marah tidak cuma kepada anak-anak, tetapi juga kepada diri sendiri. Karena di antara pelanggar itu ternyata juga saya sendiri.

Pokoknya, ke manapun mata memandang, saya cuma melihat begitu banyak kekacauaan di sekujur ruang. Inilah derita yang muncul di setiap saya mengerjakan pekerjaan rumah dan itulah derita yang selama ini pasti diderita istri, termasuk ketika harus menguras bak mandi.

Demikian lama saya hanya mandi tanpa pernah lagi menguras bak mandi, berarti demikian lama sudah istri menderita kesengsaraan ini. Karenanya, tak sekali saya melihat ia begitu lelah, walau lewat pengakuannya sendiri, ia lelah untuk sebuah pekerjaan bernama entah. Pekerjaan yang ia sebut sebagai melelahkan tetapi tidak kelihatan.
      
Maka ketika suatu kali ia tampak pucat kelelahan padahal saya tahu ia masih harus menguras bak mandi, entah ilham kebaikan apa yang masuk di kepala, saya memutuskan mendahului. Saya bersihkan kamar mandi itu habis-habisan, saya kucurkan airnya yang bersih hingga  berlimpahan.

Saya bayangkan, ini bukan sekedar kegiatan menguras bak, ini adalah persiapan membuat persembahan perkawinan. Akan saya buktikan bahwa hadiah perkawinan adalah sesuatu yang amat murah dan jika mau setiap hari bisa saya berikan.

disadur dari: http://www.priegs.com

Print halaman ini

| | Read More »

Orang Terkaya ke- 3 di Indonesia Ini Hanya Lulusan SD



Eka Tjipta Widjaya atau Oei Ek Tjhong, pendiri Sinar Mas Grup, masuk 3 besar orang terkaya Indonesia versi majalah Globe Asia. Kabarnya, total kekayaannya ± USD 3,8 milyar. Tahukah Anda kalau dia hanya lulusan SD??.

Lahir 3 Oktober 1923. Saat kecil, keluarganya hidup dalam kemiskinan. Bersama ibunya, ia pindah ke Makassar pada tahun 1932, ketika usianya 9 tahun dan membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian, utang terbayar, toko ayahnya maju. Eka pun minta sekolah. Tapi Eka menolak duduk di kelas satu.

Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Ia pun mulai jualan. Ia keliling kota Makassar, menjajakan biskuit dan kembang gula. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya.

Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda.

Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.

Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah di Paotere. Ia membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya ikut ia pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Dia juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur dari teman-temannya.

Jam tujuh pagi ia sudah siap jualan. Benar saja, pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda.

Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja ia minta izin mengangkat semua barang yang sudah dibuang.

Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang.

Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung.

Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu.

Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.

Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya.

Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan.

Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah.

Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar.

Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kawin untuk menutup utang dagang.

Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi.

Usahanya baru benar-benar melesat dan tak jatuh-jatuh setelah Orde Baru, era yang menurut Eka, “memberi kesejukkan era usaha”. Pria bertangan dingin ini mampu membenahi aneka usaha yang tadinya “tak ada apa-apanya” menjadi “ada apa-apanya”. Tjiwi Kimia, yang dibangun 1976, dan berproduksi 10.000 ton kertas (1978) dipacu menjadi 600.000 ton sekarang ini.

Tahun 1980-1981 ia membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau, mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton. Perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar berkapasitas 20 ribu ton dibelinya pula.

Tahun 1982, ia membeli Bank Internasional Indonesia. Awalnya BII hanya dua cabang dengan aset Rp. 13 milyar. Setelah dipegang dua belas tahun, BII kini memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset Rp. 9,2 trilyun. PT Indah Kiat juga dibeli. Produksi awal (1984) hanya 50.000 ton per tahun.

Sepuluh tahun kemudian produksi Indah Kiat menjadi 700.000 ton pulp per tahun, dan 650.000 ton kertas per tahun. Tak sampai di bisnis perbankan, kertas, minyak, Eka juga merancah bisnis real estate. Ia bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Di Roxy ia bangun apartemen Green View, di Kuningan ada Ambassador.

“Saya Sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba Nya yang baik,” katanya mengomentari semua suksesnya kini. “Kecuali itu, hematlah,” tambahnya.

Ia menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp. 100, belanjanya Rp. 90. Dan kalau untung Cuma Rp. 200, jangan coba-coba belanja Rp. 210,” Waahhh, itu cilaka betul,” katanya.

Setelah 58 tahun berbisnis dan bergelar konglomerat, Eka mengatakan, dia pribadi sebenarnya sangat miskin. “Tiap memikirkan utang berikut bunganya yang demikian besar, saya tak berani menggunakan uang sembarangan. Ingin rehat susah, sebab waktu terkuras untuk bisnis. Terasa benar tak ada waktu menggunakan uang pribadi,” Eka mengeluh. Hendak makan makanan enak, lanjutnya, sulit benar karena makanan enak rata-rata berkolesterol tinggi.

Inilah ironi, kata Eka. Dulu ia susah makan makanan enak karena miskin. Kini ketika sudah “konglomerat” (dengan 70 ribu karyawan dan hampir 200 perusahaan), Eka tetap susah makan enak, karena takut kolestrol. Usia ayah delapan anak kelahiran 3 Oktober 1923 ini sudah hampir 73 tahun. Usia yang menuntutnya menjaga kesehatan secara ketat dan prima.

Kini ketika sudah “konglomerat” (dengan 70 ribu karyawan dan hampir 200 perusahaan), Eka tetap susah makan enak, karena takut kolestrol. Usia ayah delapan anak kelahiran 3 Oktober 1923 ini sudah hampir 73 tahun. Usia yang menuntutnya menjaga kesehatan secara ketat dan prima.

| | Read More »

Tatkala saling mengerti itu tumbuh, maka cinta pun mekar

sma yas
T ess dan Anna adalah dua wanita yang tak pernah akur. Keduanya seperti anjing dan kucing.
Setiap kali mereka bertemu yang ada hanyalah kesalahpahaman dan pertengkaran.
Lebih ironis lagi, mereka adalah ibu dan anak. Tess, sang ibu telah menjanda sejak suaminya meninggal, berprofesi sebagai konselor. Sedang puterinya, Anna adalah seorang gadis berusia 15 tahun.
Anna merasa ibunya tak pernah mau mengerti keadaannya. Demikian juga Tess menganggap Anna terlalu egois dan tidak pernah menghargainya.

Namun segala sesuatu berubah, ketika Jumat itu tiba.
Pada hari itu terjadi keajaiban di rumah mereka. Berkat tulisan pada kertas yang ada di dalam fortune cookie yang mereka baca pada malam sebelumnya, mereka bangun dengan bertukar raga.
 Tess menempati tubuh Anna. Sebaliknya, Anna masuk ke dalam tubuh ibunya. Meski mereka sangat shock dengan perubahan itu, tetapi the show must go on. Mereka harus menjalani aktivitas seperti lazimnya. Anna harus menjalani profesi ibunya sebagai seorang konselor. Sedang Tess harus ke sekolah.

Di hari Jumat itu, mereka mengalami peristiwa yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Hari itu, Tess menjalani lika-liku kehidupan anak gadisnya. Banyak hal yang dialami Tess, seperti pengalaman anaknya yang sedang dimabuk cinta atau perasaan terpukul ketika menghadapi guru yang selalu bersikap tidak adil padanya. Dari situlah Tess berusaha menempatkan diri dari perspektif anaknya. Ia mulai mencoba mengerti dan menerima anaknya. Hal yang terjadi juga pada diri Anna, yang menjalani kehidupan ibunya. Ia pun mulai bisa memahami diri ibunya.
Tatkala saling mengerti itu tumbuh, maka cinta pun mekar. Akhirnya mereka pun kembali pada tubuh mereka masing-masing. Memang itulah syaratnya yang tertulis pada kertas di dalam fortune cookie itu, bahwa keadaan akan kembali seperti semula, asal mereka kembali saling mencinta.

Tentu kisah tadi bukanlah kisah sebenarnya. Kisah itu hanya ada di dalam film yang bertajuk Freaky Friday (Jumat yang Aneh).
Meski demikian, pelajaran di dalamnya berlaku universal. Seringkali kita terlalu egois, tidak pernah mau mengerti orang lain. Akibatnya, hubungan dengan orang-orang dekat, entah itu pasangan hidup, orangtua, anak atau saudara kandung menjadi rusak.

Kunci dari semua itu ialah: berusahalah untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, niscaya kita akan memiliki perspektif baru yang akan menumbuhkan pengertian dan cinta.

Pancha Wiguna Yahya

| | Read More »

Perempuan-perempuan yang Inspiratif

Judul : She Can! Catatan Inspiratif Wanita. Sang Pendobrak, Mendobrak Tantangan, Meretas Jalan ke Masa Depan
Penulis : Shahnaz Haque
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 208 halaman

Kekuatan seorang perempuan tidak hanya mengubah hidup keluarganya, melainkan bisa juga mengubah sebuah bangsa atau bahkan dunia.
Tercatat nama beberapa perempuan mampu mengubah dunia menjadi lebih baik dalam satu dekade belakangan. Salah satunya adalah Benazir Bhutto, mantan PM Pakistan yang telah membawa perubahan bagi negerinya.
Atau kita lihat keberhasilan Presiden USA Barack Obama dalam meraih kursi nomor satu pemerintahan AS, semua itu tak lepas dari dukungan isterinya, Michelle Obama. Michelle Obama mampu menarik memotivasi Obama untuk terus semangat dalam pemilihan presiden.

Bukan hanya di luar negeri, Indonesia sendiri memunyai banyak kisah tentang sosok kepemimpinan seorang perempuan, kisah-kisah itu mulai bergulir sejak era penjajahan sampai sekarang.
Seperti RA Kartini yang berjuang mencerdaskan kaum wanita di zamannya dan masih banyak lagi. Akhir 2009, sebuah tayangan televisi swasta yang menayangkan pemberian penghargaan bagi perempuanperempuan yang berperan besar bagi lingkungannya. Acara ini diberi nama SHE CAN. Dalam acara itu, terpilih 38 perempuan dari berbagai pelosok tanah air.
Mereka adalah perempuan inspiratif yang telah berperan penting dalam bidangnya masing-masing. Salah satunya adalah Christine Hakim, pengusaha keripik balado dari Padang, Sumatra Barat.
Christine Hakim tidak menyangka bahwa ia akan terpilih dalam ajang ini, bahkan menurutnya, wanita-wanita terpilih lainnya sangat hebat, sehingga merasa masih perlu mengembangkan diri untuk terus berkarya.

Kisahnya yang panjang tertuang dalam sebuah buku yang dituliskan oleh Shahnaz Haque.
Shahnaz merasa sangat perlu membukukan kisah-kisah perempuan sukses tersebut dengan harapan bahwa buku ini akan menginspirasi wanita Indonesia untuk terus berkarya.
Dalam buku ini, Shahnaz mengangkat tujuh kisah inspiratif dari bidang-bidang yang berbeda. Mereka adalah Anne Avantie (perancang kebaya), Christine Hakim (pengusaha keripik balado), Ani Ema Susanti (TKW), Kiswanti (perempuan desa), Tiara Savitri (pengidap lupus), Waljinah (penyanyi keroncong), dan dirinya sendiri.

Buku ini juga menyajikan perjuangan Ani dalam mengadu nasib menjadi TKW demi membiayai kuliahnya? Atau Waljinah, seorang penyanyi yang lebih dari lima dekade mengabdikan diri pada sebuah aliran musik yang sudah dianggap tak populer? Kisah-kisah tak biasa itu hanyalah sebagian dari perjuangan hidup tujuh perempuan perkasa, yang tak pernah menyerah pada keadaan atau nasib.

Dalam kondisi seburuk apa pun, mereka tetap berani mengejar impiannya, bahkan menjadi matahari bagi orang-orang di sekitarnya.
Tak ada kata “menyerah” atau “tak mungkin”. Mengenal perempuan-perempuan luar biasa ini bukannya tak mungkin Anda akan tersentuh, terinspirasi, bahkan termotivasi untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.

Melalui buku ini, Shahnaz ingin memotivasi seluruh perempuan Indonesia untuk bangkit dan melangkah meraih kehidupan yang lebih baik. Selama ini, Shahnaz melihat perempuan selalu dinomorduakan. Ia ingin buku tersebut menggerakkan semangat perempuan untuk tak bergantung kepada siapa pun.

| | Read More »