Rujak Mata & Cingur Sapi, Sama Lezatnya!





SEBUAH menu lezat tak harus tercipta dari cara yang rumit. Buktinya, rujak mata sapi tercipta lantaran bagian ini kerap dibuang oleh pembuat rujak cingur. Kini, rujak mata, selain cingur sapi, jadi menu andalan warga Kabupaten Bangkalan, Madura.

Sepintas, bila mendengar nama menu ini, Anda pasti akan bertanya-tanya seperti apa bentuk dan rasanya. Sangat mudah menemui tempat makan yang menyajikan menu asli Kabupaten Bangkalan ini. Salah satu terletak Jalan KH. Muhammad Cholil, yakni Warung Kenikmatan. Lokasinya tepat berada di belakang kantor atau arah barat koran lokal (Radar Madura).

Sang penjual, Marinten, sudah cukup terkenal. Wanita yang sudah sembilan tahun menjadi penjual rujak mata sapi ini mempunyai banyak pelanggan, mulai dari kalangan buruh becak sampai pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten setempat.

Wanita berusia 40 tahun ini menyatakan, usahanya diawali dengan berjualan rujak cingur. Berhubung banyak saingan dan sering tidak laku, dia mencoba banting setir untuk berjualan rujak mata sapi. Ide awalnya cukup simpel, yakni hanya karena banyaknya penjual rujak cingur yang hanya mengambil cingur (hidung sapi) dan membuang mata sapi.

“Dari ide awal tersebut, kemudian saya tekuni untuk terus berjualan rujak mata sapi. Ya lumayanlah, sudah banyak yang suka,” ujar Marinten kepada okezone ditemui di warungnya seraya mengulek rujak.

Ditanya soal cara masak, terutama bahan dasar berupa mata sapi, Marintem menjelaskan bahwa cara mengolahnya hampir sama dengan memasak cingur, yakni direbus. Tapi, yang direbus hanya mata sapi, tidak dengan kepala.

Demikian juga dengan bumbu rujak mata sapi yang tidak jauh berbeda dengan rujak cingur. Ada beberapa bahan pokok yang diulek menjadi bumbu, antara lain kacang tanah, petis ikan, dan garam secukupnya.

Penyajiannya cukup sederhana. Bila bumbu kacang sudah siap, menu utama berupa mata sapi langsung dimasukkan, ditambah menu pelengkap seperti lontong, kecambah (toge pendek), kangkung dan ketimun. Marintem juga menambahkan buah, seperti nanas, bengkoang, dan mangga.

“Tergantung permintaan pembeli. Cuma yang pasti, mata sapi yang sudah direbus menjadi menu utama,” katanya.

Sejauh ini, Marintem mengaku tidak kesulitan menemukan bahan baku berupa mata sapi. Sebab, selain diperoleh dari para penjual rujak cingur, kepala sapi berikut mata cenderung mudah didapat di beberapa pasar yang ada. Harganya juga cukup murah.

Dalam sehari berjualan, Marintem mengaku bisa menghabiskan hingga 5kg mata sapi. Bisa dibayangkan, keuntungan menggiurkan yang diperoleh bila satu porsi dihargai Rp10 ribu, termasuk air mineral. Pelanggan setia Marintem biasanya mulai antri saat buka sekira pukul 09.00 WIB.

“Tidak hanya dari sini (Bangkalan) saja. Pelanggan saya juga ada yang dari luar (Pulau Jawa), yang biasanya saat hari libur datang ke sini,” ungkapnya.

Salah satu pelanggan asal Surabaya, Hasan Husen, menyatakan suka dan ketagihan makan rujak mata sapi, karena rasanya beda dengan yang lain. Dia mengaku, awalnya hanya diberitahu teman. Penasaran dengan menu tersebut, dia langsung meluncur ke Bangkalan.

“Kalau dimakan siang hari, tambah mantap. Beda dengan rujak cingur, yang rasanya seperti itu-itu saja,” ucapnya.


sumber

Print halaman ini

| | Read More »

Berbagai Tempat Di Indonesia Tapi Serasa Di Luar Negeri

Serasa melintas di negara bagian US ya, BUKAN ini Jembatan Suramadu


Mirip Kota Gaza ? BUKAN ini Medan


Singapore ? BUKAN ini Gramedia Surabaya


Mirip Monaco ? BUKAN ini di Bunaken


Jalan di Afrika ? BUKAN ini di Gunung Kidul, Yogyakarta



Bandara di Eropa ? BUKAN ini Bandara Sultan Hasanuddin Makassar


New Zeland ? BUKAN ini Pulau Komodo



Pedestrian di US ? BUKAN ini di Makassar




Shanghai ? BUKAN ini Mangga Dua

Midnight di Hongkong ? BUKAN ini Thamrin




Paris ? BUKAN ini Lapangan Banteng
, Jakarta


sumber


Print halaman ini

| | Read More »

I Love Bandung: All About Bandung, Paris Van Java




“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!”
(Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”)

ADA banyak, selain saya, yang bercerita tentang kota Bandung. Tentang kotanya, tentang makanannya, tentang keramahannya, tentang panas, dingin dan sejuknya, tentang kemacetannya, tentang PERSIB-nya, tentang musiknya, tentang sampahnya,tentang pengharapan warganya… tentang segalanya.
Sebagai warga Bandung, saya tak lepas juga bercerita tentang kota ini, secara langsung atau jauh lebih banyak secara tak langsung, sering juga malah teu nyambung.
Satu konteks yang tak pernah saya lepas dari pikiran adalah tentang wilayah Bandung itu sendiri. Kata ‘Bandung’ kini semakin menyempit sebagai ‘Kotamadya Bandung’ saja, walau sebenarnya secara fisik wilayah kotamadya sudah meluas sudah sejak lama (melebar ke arah timur).
Saya sendiri suka menyebut ‘Bandung Raya’ sebagai wilayah yang meliputi administratif Kotamadya Bandung, Kotamadya Cimahi dan Kabupaten Bandung. Penyempitan arti itu sendiri sebenarnya akibat warga Bandung sendiri, bukan warga kota lain.
Misalnya dulu di sekitaran rumah saya yang hanya beberapa ratus meter dari perbatasan, masih di wilayah kotamadya, sering terdengar orang berbicara, “Bade ameng ka Bandung heula, ah” yang artinya, “Mau main ke Bandung dulu, ah”. Padahal di KTP mereka jelas tertulis KOTAMADYA BANDUNG. Apalagi bagi mereka yang jelas tinggal di wilayah kabupaten, ‘Bandung’ adalah Kotamadya Bandung, dan kerap –lebih senang– menyebut dirinya seperti “aing mah urang Cicalengka”, Ciparay, Cililin, Pangalengan, Ciwidey, Majalaya, Banjaran, Rancaekek, Soreang dan lain-lainnya.
Konteks kedua yang melekat pada Bandung adalah etnis Sunda, peradaban, budaya dan orang-orangnya, karena kata ‘Bandung’ dan ‘Sunda’ hampir selalu saling berasosiasi.
Sebagai warga Bandung, apalagi juga keturunan orang Sunda, cukup getir melihat pemakaian Bahasa Sunda semakin berkurang akhir-akhir ini. Suwer, anak kecil ngomong berbahasa Sunda itu lebih menggugah daripada berbahasa Indonesia. Lagipula orang tua tak perlu mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya, biarkan sekolah yang mengajarkan mereka.
Jadi, Bandung mana yang anda cakupi? Meski tak pernah terstruktur ternyata ada beberapa tulisan saya yang (katanya) dijadikan rujukan informasi, padahal saya bukan pusat informasi, bukan pula seorang pakar, tapi seorang yang terkapar. Tulisan-tulisan tersebut sebenarnya mudah dicari di Google dengan keyword “bandung", tapi saya coba tuliskan rangkaian tulisan tersebut dalam bentuk paragraf yang (semoga) memudahkan.
Setiap kota mempunyai sejarahnya masing-masing, begitu juga dengan yang pernah saya tulis sedikit tentang sejarah Bandung. Sejarah modern tak lepas dari sejarah dan peradaban masa silam, terutama secara umum tentang sejarah Sunda itu sendiri.
Dalam konteks kecil, nama sebuah tempat pun bisa mempunyai silsilahnya sendiri. Cerita tentang Bandung tentunya tak lepas dari orang-orang serta peristiwanya.
Siapa lagi kalau bukan para tokoh atau para pahlawan yang berjasa untuk hal tersebut. Ada Si Jalak Harupat Rd. Oto Iskandar di Nata, ada Rd. Dewi Sartika, Ibu Inggit Garnasih atau Mohamad Toha.
Di bidang seni kita mengenal Mang Udjo dengan padepokan angklungnya atau Harry Roesli, Doel Sumbang, Elfa’s yang cukup kental mewarnai pertumbuhan musik di kota ini.
Bandung Lautan Api masih tetap menjadi jargon penyemangat warga, termasuk bobotoh PERSIB yang sering menyanyikannya dengan sedikit perubahan menjadi “sekarang telah menjadi lautan BIRU”.
Di bidang pers, kota Bandung tak lepas dari perjuangan Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional. Kisah perjuangannya digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam karya Tetralogi Buru.
Ruang-ruang terbuka adalah fasilitas umum kota yang harus ada. Bandung punya alun-alun kota, lapangan Gasibu dan lapangan Tegallega. Tentu sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan wajah Bandung tempo dulu di kota yang dilingkung ku gunung ini.
Wisata alam, terutama alam pegunungan, menjadi satu daya tarik wisata, baik bagi warganya maupun dari turis-turis domestik. Ada kawah Tangkubanparahu, hutan Jayagiri, hutan Pakar-Maribaya, Situ Lembang yang sepi kurang terkunjungi, Situ Ciburuy yang katanya sudah tak jernih dan semakin surut, Situ Aksan yang sudah menghilang kering tinggal monumen, Kawah Putih, Ranca Upas serta Situ Patengan dan Batu Cinta-nya yang terpadu sebagai wisata alam Bandung Selatan, serta Situ Cileunca di Pangalengan. Tak hanya alam di bumi, anda pun bisa berwisata memandang luar angkasa di Observatorium Bosscha.
Soal makanan, jelas Bandung punya segudang makanan enak. Dari yang jajanan pasar sederhana hingga ke olahan modern. Tempat makan enak pun tak terhitung banyaknya, dari yang bersebelahan dengan tempat sampah hingga kelas restoran, semua ada, sampai saya tak tahu harus menuliskannya seperti apa. Hanya satu-dua cerita, seperti Warung Indung misalnya. Lain waktu saya lengkapi lagi. Semoga saya tetap bisa bercerita tentang kota Bandung ini seterusnya.



Print halaman ini

| | Read More »

Tradisi Budaya: Grebeg Sekaten di Yogyakarta

Di Yogjakarta ada sebuah budaya yang hingga saat ini masih terus dilestarikan yaitu Sekaten yang diselenggarakan untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tanggal 12 bulan Maulud, bulan ketiga dari tahun jawa.


ASAL USUL SEKATEN
Kata Sekaten diambil dari pengucapan kalimat “Syahadat”. Istilah Syahadat, yang diucapkan sebagai Syahadatain ini kemudian berangsur- angsur berubah dalam pengucapannya, sehingga menjadi Syakatain dan pada akhirnya menjadi istilah “Sekaten” hingga sekarang.
Pada masa-masa permulaan perkembangan agama Islam di Jawa, salah seorang dari Wali Songo, yaitu Sunan Kalijogo, mempergunakan instrumen musik Jawa Gamelan, sebagai sarana untuk memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitannya. Untuk tujuan itu dipergunakan 2 perangkat gamelan, yang memiliki laras swara yang merdu yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu.
Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dibangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara (Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Antara pukul 23.00 hingga pukul 24.00 ke dua perangkat gamelan tersebut dipindahkan kehalaman Masjid Agung Jogjakarta, dalam suatu iring-iringan abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Keraton berseragam lengkap.


ACARA PUNCAK
Puncak acara dari perayaan Sekaten adalah “grebeg maulid”, yaitu keluarnya sepasang gunungan dari Mesjid Agung seusai didoakan oleh ulama Kraton. Masyarakat percaya bahwa siapapun yang mendapatkan gunungan tersebut, biarpun sedikit akan dikaruniai kebahagiaan dan kemakmuran. Kemudian tumpeng tersebut diperebutkan oleh ribuan warga masyarakat. Mereka meyakini bahwa dengan mendapat bagian dari tumpeng akan mendatangkan berkah bagi mereka.
Pada umumnya, masyarakat Jogja dan sekitarnya berkeyakinan bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini yang bersangkutan akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugerahi awet muda. Sebagai ” Srono ” (syarat) nya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten.
Oleh karenanya, selama diselenggarakan perayaan sekaten itu, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman Kemandungan,di Alun-alun Utara maupun di depan Masjid Agung Jogja. Bagi para petani, dalam kesempatan ini memohon pula agar panenannya yang akan datang berhasil.

Ni foto-foto-nya.... Cekidot!



Adiknya Sultan HB X ni...

| | Read More »

Benteng Pendem, Tempat Wisata Andalan Cilacap

C ilacap merupakan kota di Prov. Jawa Tengah bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah sekitar 2.142,57 Km2 atau lebih kurang 225.360,84 Ha diatas ketinggian 0 – 1.146 meter  dpl.
Salah satu andalan wisata Cilacap ini adalah Benteng Pendem.




Benteng Pendem (Kusbatterij op de Lantong te Cilacap, b.belanda), terletak sekira 500 M ke arah selatan dari objek wisata pantai Teluk Penyu. Bangunan ini adalah bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap tahun 1861-1879 dengan luas 6,5 ha.

Bangunan Benteng Pendem memiliki konfigurasi yang masih kokoh, dengan dikelilingi parit, mempunyai 60 kamar/ barak, benteng pengintai, gudang senjata, terowongan, ruang penjara, ruang rapat, ruang amunisi, ruang tembak dan 13 tempat-tempat penting untuk pertahanan yang dikelilingi oleh pagar dan parit serta tertimbun tanah sedalam 1-3 meter (cilacapkab.go.id/).

sma yas
Obyek wisata ini dilengkapi pula dengan beberapa fasilitas seperti :
Tempat istirahat, Gazebo, Ayunan, Kolam Pemancingan dan sejumlah patung dinosaurus. Dari atas Benteng Pendem tampak jelas Pulau Nusakambangan.

| | Read More »

Resep Membuat Tempe Mendoan yang Fenomenal


K ata Mendoan berasal dari bahasa Banyumasan, mendo yang berarti setengah matang atau lembek. Mendoan berarti memasak dengan minyak panas yang banyak dengan cepat sehingga masakan tidak matang benar. Bahan makanan yang paling sering dibuat mendoan adalah tempe.

Bahan
15 potong tempe mendoan, potong tipis lebar
200 gr tepung terigu
250 ml air
2 batang daun bawang, iris halus
minyak goreng

Bumbu yang dihaluskan:
4 siung bawang putih
4 siung bawang merah
1 sdm ketumbar
5 butir kemiri
1 cm kunyit, bakar
1 cm kencur
garam

Sambal:
10 buah cabe rawit
5 sdm kecap manis – campur jadi satu

Cara membuat:
1. Campur jadi satu (tepung terigu, air, bumbu yang telah dihaluskan, daun bawang, garam)
2. Kemudian aduk rata, celupkan setiap potongan tempe ke dalam adonan tepung
3. Goreng dalam minyak panas, sebentar saja jangan terlalu lama.
4. Angkat dan hidangkan hangat-hangat bersama sambal kecap

Print halaman ini

| | Read More »

Angkernya Beringin Kembar Keraton Jogja

D i alun-alun selatan kota Yogya atau yang biasa disebut Alkid (Alun-alun Kidul) -- Selatan Keraton Yogyakarta. Ada dua buah beringin besar yang tumbuh berdampingan di tengah alun-alun. Di antara dua beringin tersebut ada jarak sebesar kira-kira sekitar 12 meter.

Lalu apa sih istimewanya kedua buah beringin tersebut?
Dua buah beringin tersebut biasa di sebut masyarakat setempat sebagai Wringin Kurung atau Beringin Kurung.
Menurut cerita ni yee..., jaman dahulu di tempat tersebut dibuatlah pertahanan gaib yang bertujuan untuk mengecoh pasukan Belanda yang akan menyerang keraton sehingga mereka kehilangan arah. Karena faktor adanya pertahanan gaib itulah, kini setiap malam, terutama malam Jumat, Beringin Kembar ini ramai dikunjungi para wisatawan yang mencoba melewati celah di antara dua beringin tersebut dengan mata tertutup dari jarak 20 meter.

Berjalan lurus dengan mata tertutup untuk melewati celah di antara dua beringin tersebut memang sekilas terlihat mudah, tapi ternyata tidak semua orang bisa melewatinya. Ada yang merasa sedang berjalan berbelok ke kiri, tetapi pada kenyataannya mereka berbelok ke kanan. Kebanyakan para wisatawan yang mencoba melewati celah tersebut memang kebanyakan akhirnya berbelok ke kanan, jarang sekali ada yang berbelok ke kiri. Para wisatawan asing pun terlihat mencoba peruntungan mereka untuk dapat berjalan melewati celah di antara kedua beringin tersebut, dan kebanyakan mereka terlihat hanya berputar-putar di depan pohon tanpa bisa melewati celah yang begitu lebar tersebut.

Ada selentingan yang mengatakan bahwa di depan Beringin Kembar tersebut ada barisan makhluk halus yang bergandengan tangan dengan erat dan membentuk barisan yang membelok ke kanan. Wallahu a’lam bi showaab… perasaan sedang berjalan lurus padahal pada kenyataannya orang tersebut sedang berjalan berbelok ke kanan.
Hal yang sebenarnya berkaitan erat dengan faktor mistis ini, pada akhirnya dapat menjadi ajang hiburan bagi mereka yang menonton teman atau kerabatnya yang sedang berjalan melalui celah Beringin Kembar tersebut. Banyak kelucuan tercipta dari mereka yang merasa yakin telah dapat berjalan lurus namun pada kenyataannya mereka berjalan menjauh dari beringin tersebut.

Mau Coba???

| | Read More »

Nikmatinya Kuliner Seafood ala Pantai Kuwaru


P antai Kuwaru,terletak di Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, sekitar 29 KM dari Kota Jogja.
Memang nama pantai Kuwaru belum setenar Pantai Depok atau pantai Parangtritis.
“Kendala utamanya menuju Pantai Kuwaru ini adalah sarana jalan yang masih sangat sempit, sehingga bus besar tidak mungkin masuk ke Pantai Kuwaru. Dengan mobil pribadi pun kalau berpapasan harus mengalah salah satunya."
Meski belum terkenal sebagai pantai yang menyediakan olahan makanan segar dari hasil tangkapan di luat, namun belakangan ini, menjadi salah satu alternatif wisata kuliner keluarga.

Peta akses menuju Pantai Kuwaru


“Untuk memasak hingga menyiapkan makanan siap saji, biayanya dihitung per kilogram ikan untuk dimasak. Biasanya para pemilik warung menarik biaya dalam kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilgram untuk memasak ikan dengan berbagai rasa sesuai dengan selera wisatawan. Bahkan, biaya itu sudah termasuk nasi, sambal, serta lalapan.”
Enaknya hidangan seafood pantai Kuwaru. Murah


Selain pemandangan indah, hawa sejuk dan aneka kuliner, ada fasilitas ATV maupun kolam mandi air tawar.
Di pantai ini selain kita dapat menikmati deburan ombak pantai selatan tersedia pula warung -warung makanan dengan sajian menu beragam.
Fasilitas Kolam renang air tawar menyajikan suguhan berbeda

Naik ATV cuma Rp. 25rb selama 15 menit. Cukup untuk menikmati keindahan

Satu hal yang membedakan dengan pantai lain di Bantul yaitu di Pantai Kuwaru kita dapat menikmati hembusan angin pantai sambil makan ataupun bersantai di bawah rindangnya pohon cemara. Rindangnya pantai tersebut berkat usaha penghijauan yang dilakukan warga sejak sekitar 10 tahun lalu.


Pantai Kuwaru sangat panjang karena bersambung dengan pantai Pandansimo di sisi baratnya. Pokoknya sangat asyik untuk bermain kejar-kejaran, membuat patung dari pasir, sepedaan atau sewa motor roda empat. Saat ini sekitar pantai belum ada yang berjualan cangkokan cemara udang sebagai tanaman hias. Padahal cemara udang itu bisa dibuat bonsai dalam pot yang laku dijual dari Rp 50.000 sampai Rp 1,5 juta. Cemara bonsai yang berumur sekitar 5 tahun bisa seharga Rp 1,5 juta. Memang bonsai yang dibuat dari bibit jauh lebih mahal dibanding dengan dari cangkokan. Hayo siapa yang hendak mulai bisnis ini?


Perlu hati-hati kalau hendak mandi di pantai Kuwaru karena  disamping ombaknya besar dan ganas, juga dasar lautnya curam dan terjal serta banyak batu karang yang bisa menjepit kaki anda apabila anda terperosok ke dalamnya. hiii.. serem..

| | Read More »

wisata “Cangar” Batu, Malang

Wisata pemandian alami air panas terletak di Taman Hutan Raya R. Soeryo. Sekitar 1 (satu) jam perjalanan dari pusat kota Malang. Memang jauh sih dan pegel.. tapi smua itu terbayar kalo udah tiba di lokasi. Suueeggeeerrr tenan rek. Retribusi Rp. 3.000 aje...
Perjalanan ke Wisata Cangar. Jauh tapi menyuguhkan pemandangan dan petualangan menakjubkan



Suasana kolam pemandian

Sambil istirahat (kalo cape berendam) ada suguhan dan kenikmatan lain, yakni tape ketan. hmmm... ini jelas beda lhoo....   Harganya?? cuma Rp. 3.000 aje

 Penjual tape ketan
 
Penjual makanan khas di sini, yaitu tape ketan hitam dan “badek”. Makanan dan minuman ini memang. Dan mungkin lebih tepat lagi adalah cocok. Sebab makanan dan minuman ini membawa nuansa hangat di tubuh yang mengkonsumsinya. Lebih-lebih di “Cangar” ini. Karena wisata “Cangar” ini terletak di dataran tinggi, hawa dingin dan kabut jelas terasa.

| | Read More »

Kuliner Boulevard Tondano Manado

sma yas
T idak jauh dari Boulevard Tondano yang lebar dan lurus membelah persawahan yang hijau menguning di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara ini, terdapat deretan warung sederhana yang menawarkan masakan khas Minahasa yang pedas lezat, dengan harga yang relatif murah. Kami mampir ke salah satu warung, setelah melewati Desa Koyah, dalam perjalanan pulang ke Roong, Tondano.


Ikan Payangka digoreng kering rica-rica yang merupakan hidangan favorit pada siang itu, terasa sangat nikmat untuk disantap meski kadar cabainya sangat pedas di lidah. Ikan ini merupakan salah satu ikan air tawar yang diambil dari Danau Tondano. Kenikmatan melahap ikan ini mengalahkan selera untuk menikmati udang, ikan bakar, serta sup ikan yang juga terhidang di meja.

Deretan mobil yang parkir di seberang warung sederhana di samping Boulevard Tondano itu.




Sayang sekali bahwa kondisi warung-warung makanan di sekitar Boulevard Tondano itu terkesan agak kumuh. Kelezatan dan kenikmatan masakan kadang memang mengalahkan kebutuhan akan kenyamanan. Semoga saja warung-warung ini bisa ditata dengan lebih rapi, dengan standar higienis yang baik, yang tentu akan sangat membantu bagi perkembangan wisata di daerah Tondano ini.

| | Read More »

Kawasan Boulevard Manado

 Salah satu ikon kota Manado adalah Kawasan Boulevard di kota Manado. Tempat ini boleh dibilang sebagai kawasan pusat wisata kuliner malam hari di Manado. Suasana yang hadir di sana bak suasana Pantai Losari di kota Makasar, Sulawesi Selatan. Penduduk Kawasan Boulevard sering disebut sebagai smiling people lantaran keramahannya.

Untuk menuju Kawasan Boulevard cukup mudah dijangkau dengan angkutan dalam kota maupun kendaraan pribadi. Letaknya pun strategis dan menjadi salah satu daya tarik baru kota Tinutuan ini, sehingga pusat kegiatan masyarakat Manado justru berpusat di mal-mal, hotel atau restoran di kawasan Boulevard ini. Sebelumnya aktivitas warga Manado terpusat di sekitar Monumen Taman Kesatuan Bangsa, tetapi saat ini lebih banyak terpusat di kawasan Boulevard.

 Kawasan Boulevard saat petang hari 


(a-chy)

| | Read More »